Rekan Indonesia Kritik Politik Ketakutan Isu Virus Hanta: Edukasi Publik Jangan Kalah oleh Narasi Kepanikan

Penulis : -
Rekan Indonesia Kritik Politik Ketakutan Isu Virus Hanta: Edukasi Publik Jangan Kalah oleh Narasi Kepanikan
Ilustrasi edukasi pencegahan Virus Hanta di tengah maraknya narasi ketakutan dan isu kesehatan global. Rekan Indonesia mendorong komunikasi publik yang rasional, edukatif, dan tidak memicu kepanikan massal. ( Doc : Tim Celuritnews).

JAKARTA, Celurit.news — Rekan Indonesia menyoroti pola komunikasi publik dalam isu virus Hanta yang dinilai semakin dipenuhi narasi ketakutan dibanding edukasi kesehatan yang rasional dan mudah dipahami masyarakat.( 17/05/2026).

Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho, menegaskan bahwa informasi mengenai penyakit menular seharusnya tidak hanya berisi ancaman dan kepanikan, tetapi juga memberikan pemahaman yang utuh terkait pencegahan, risiko, dan langkah penanganan awal.

Menurutnya, kemunculan isu virus baru kerap dibingkai dengan pendekatan sensasional yang memicu kecemasan publik, terutama setelah dunia mengalami trauma pandemi COVID-19.

“Publik terus dibombardir dengan judul-judul menakutkan seolah dunia kembali menghadapi ancaman besar. Padahal masyarakat juga membutuhkan edukasi sederhana tentang bagaimana mencegah penularan dan menjaga diri tetap aman,” ujar Agung Nugroho dalam keterangan pers Rekan Indonesia di Jakarta Selatan.

Agung menjelaskan, Hantavirus memang merupakan penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat menyerang paru-paru maupun ginjal. Namun ia menilai informasi yang beredar harus tetap proporsional karena sebagian besar jenis Hantavirus tidak mudah menular antarmanusia seperti COVID-19.

Rekan Indonesia menilai isu kesehatan global saat ini tidak lagi murni berada dalam ranah medis, melainkan juga berkaitan dengan kepentingan industri kesehatan, ekonomi global, media massa, hingga politik informasi.

Dalam keterangannya, organisasi tersebut menyoroti bagaimana setiap kemunculan wabah baru sering diikuti peningkatan kebutuhan industri farmasi mulai dari riset, alat diagnostik, obat-obatan hingga pengembangan vaksin.

Meski demikian, Agung menegaskan kritik terhadap industri kesehatan tidak boleh diarahkan menjadi penolakan terhadap ilmu pengetahuan maupun tenaga medis.

“Kritik harus ditempatkan secara objektif. Industri kesehatan memang memiliki kepentingan ekonomi, tetapi tenaga kesehatan dan ilmuwan tetap bekerja untuk mencegah jatuhnya korban. Yang perlu dikritisi adalah pola penyampaian informasi agar tidak berubah menjadi produksi ketakutan massal,” katanya.

Rekan Indonesia juga menilai media modern cenderung mengedepankan aspek sensasional karena isu yang memicu ketakutan dianggap lebih cepat menarik perhatian publik dan meningkatkan trafik informasi.

Akibatnya, edukasi praktis mengenai pencegahan penyakit justru sering tenggelam di tengah narasi ancaman global.
Padahal, lanjut Agung, langkah pencegahan Hantavirus lebih banyak berkaitan dengan kebersihan lingkungan dan pengendalian populasi tikus sebagai sumber utama penularan.

Ia mengimbau masyarakat untuk menjaga sanitasi rumah, membersihkan gudang dan area lembap, serta menggunakan cairan disinfektan sebelum membersihkan kotoran tikus agar partikel berbahaya tidak beterbangan dan terhirup.

“Pencegahan Hantavirus sebenarnya sangat konkret dan bisa dilakukan masyarakat sehari-hari. Kuncinya ada pada kebersihan lingkungan, sanitasi, dan pengendalian tikus,” ujarnya.

Rekan Indonesia juga meminta pemerintah dan media memperkuat edukasi kesehatan berbasis komunitas, khususnya di wilayah padat penduduk dan daerah dengan sanitasi buruk yang rentan menjadi habitat hewan pengerat.

Menurut Agung, komunikasi publik terkait kesehatan harus tetap mengedepankan prinsip rasional, proporsional, dan berbasis edukasi agar masyarakat tidak mudah terjebak kepanikan maupun teori konspirasi.

“Kewaspadaan tetap penting, tetapi masyarakat juga perlu ketenangan dan pengetahuan yang jelas. Informasi kesehatan jangan berubah menjadi alat produksi ketakutan,” pungkasnya.

Editor : Redaksi