Oleh : Agung Nugroho, Ketua Umun Rekan Indonesia

Silent Killer yang Kita Remehkan.

Penulis : -
Silent Killer yang Kita Remehkan.
foto : Istimewa

JAKARTA, Celurit.News - Dalam imajinasi publik, penyakit berbahaya sering hadir dengan gejala yang tajam: nyeri hebat, sesak napas, atau tubuh yang tiba-tiba tak berdaya. Namun banyak kondisi serius justru bekerja sebaliknya. Ia datang perlahan, tanpa suara, tanpa rasa sakit yang mencolok. Inilah yang dalam dunia medis dikenal sebagai silent killer.

Salah satu contohnya adalah diabetes melitus, penyakit kronis yang kini menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat di Indonesia. Data nasional menunjukkan bahwa prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas berdasarkan pemeriksaan gula darah mencapai hampir 12 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah penderita yang terdiagnosis secara medis. Artinya, jutaan orang hidup dengan diabetes tanpa menyadarinya.

Indonesia bahkan termasuk dalam jajaran negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Tren ini terus meningkat dari tahun ke tahun, seiring perubahan pola makan, gaya hidup sedentari, dan rendahnya kesadaran pemeriksaan kesehatan rutin. Namun di balik angka-angka tersebut, ada persoalan yang lebih mendasar: diabetes kerap tidak terasa sebagai ancaman pada fase awal.

Pada tahap awal, penyakit ini jarang mengganggu aktivitas. Penderitanya masih dapat bekerja, berolahraga, dan menjalani rutinitas harian. Gejalanya halus dan mudah dinormalisasi: sering haus, sering buang air kecil, berat badan menurun tanpa sebab jelas, atau rasa lelah yang dianggap sebagai konsekuensi kesibukan. Tidak ada rasa sakit yang memaksa seseorang segera mencari pertolongan medis.

Masalah muncul ketika kondisi ini berlangsung terlalu lama tanpa disadari. Pada situasi tertentu, kadar gula darah dapat meningkat sangat tinggi, tetapi tidak dapat dimanfaatkan oleh sel tubuh karena kekurangan insulin. Tubuh lalu bereaksi seolah sedang kelaparan dan mulai membakar lemak sebagai sumber energi darurat. Proses ini menghasilkan zat keton yang bersifat asam. Ketika zat ini menumpuk, darah menjadi semakin asam dan organ-organ vital bekerja di bawah tekanan berat.

Tubuh berusaha bertahan dengan cara terakhirnya, salah satunya melalui perubahan pola napas yang menjadi lebih dalam dan cepat. Ironisnya, perubahan ini tidak selalu dirasakan sebagai sesak. Penderitanya bisa tetap merasa “baik-baik saja”, padahal secara fisiologis sedang berada dalam kondisi gawat darurat.

Di sinilah bahaya silent killer menjadi nyata. Penyakit ini bukan tidak memberi tanda, melainkan memberi tanda yang terlalu sering diremehkan. Budaya menormalisasi gejala kecil ikut memperparah situasi. Rasa haus dianggap wajar. Lelah diterima sebagai bagian dari produktivitas. Penurunan berat badan bahkan kerap dipersepsikan sebagai hal positif.

Padahal, banyak kondisi berbahaya justru dapat dikenali lebih awal melalui pemeriksaan sederhana. Deteksi dini bukan semata soal teknologi medis, melainkan soal kesadaran untuk mendengarkan tubuh dan tidak mengabaikan perubahan kecil yang terjadi berulang.

Opini ini bukan untuk menebar ketakutan. Ia adalah pengingat bahwa merasa sehat tidak selalu berarti bebas risiko. Usia muda pun bukan jaminan kekebalan. Dalam menghadapi penyakit yang bekerja dalam diam, kewaspadaan sering kali menjadi benteng terakhir. Karena pada silent killer, yang paling mematikan bukan hanya penyakitnya, melainkan keterlambatan kita menyadarinya.

Editor : Redaksi