Dugaan Mark-Up Proyek Patung Karapan Sapi Sampang Menguat: Pengakuan Pengrajin Buka Fakta Baru

Penulis : -
Dugaan Mark-Up Proyek Patung Karapan Sapi Sampang Menguat: Pengakuan Pengrajin Buka Fakta Baru
Proses PemasanganPatung karapan sapi di Alun-Alun Trunojoyo Sampang yang kini disorot akibat dugaan kejanggalan anggaran proyek.( Foto : Istimewa).

SAMPANG, Celurit.News — Dugaan penyimpangan anggaran dalam proyek patung karapan sapi di Alun-Alun Trunojoyo, Kabupaten Sampang, semakin menguat dan memicu tanda tanya besar di tengah publik.

Anggaran proyek tersebut tercatat mencapai Rp 3,3 miliar untuk tiga pasang patung, namun nilai itu kini dipertanyakan setelah munculnya pengakuan dari seorang pengrajin tembaga asal Jawa Tengah berinisial A.(09/12/2025).

Pengrajin tersebut mengklaim dirinya sebagai pihak yang mengerjakan patung-patung karapan sapi itu dengan biaya jauh lebih rendah dibanding nilai proyek resmi dari pemerintah daerah.

Kepada sejumlah pihak, A menegaskan bahwa biaya pembuatan satu patung karapan sapi hanya sekitar Rp 150 juta menggunakan material tembaga. Dengan demikian, total biaya tiga patung hanya berkisar Rp 450 juta.

Jika pernyataan tersebut akurat, maka terdapat selisih anggaran hingga miliaran rupiah dibandingkan angka Rp 3,3 miliar yang tercantum dalam dokumen proyek.

Pengakuan itu semakin menajamkan perdebatan mengenai transparansi dan validitas anggaran, terutama karena pernyataan A bertolak belakang dengan informasi resmi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sampang.

Sebelumnya, Kepala Bidang Konservasi dan Rehabilitasi Lingkungan DLH Sampang, Imam Irawan, menyampaikan kepada sejumlah media bahwa patung karapan sapi dikerjakan oleh seniman profesional asal Bali.

Dalam keterangan pada Selasa (02/08/2022), Imam menyebut pengerjaan dilakukan oleh seorang pematung ternama dari Bali dengan material perunggu dan saat itu berada pada tahap pengecoran.

Imam juga menyampaikan bahwa anggaran untuk satu pasang patung karapan sapi mencapai Rp 1,1 miliar, sehingga total tiga pasang patung menelan biaya Rp 3,3 miliar.

Disebutkan pula bahwa pengerjaan dilakukan oleh seniman Bali bernama I Gede Sarantika, yang diklaim merupakan bagian dari lingkungan seniman besar I Nyoman Nuarta, dengan model meniru sapi lokal Sampang seperti Jet Matic.

Namun, klaim pengrajin asal Boyolali itu justru membuka dugaan baru mengenai siapa pihak yang sebenarnya mengerjakan patung tersebut dan material apa yang sesungguhnya digunakan.

Perbedaan informasi yang mencolok antara pengrajin dan DLH turut menimbulkan kecurigaan publik mengenai adanya potensi mark-up atau ketidaksesuaian dalam pelaksanaan proyek.

Publik Sampang pun ramai mendesak aparat penegak hukum, termasuk Kejaksaan dan Inspektorat, untuk segera turun tangan mengusut dugaan penyimpangan anggaran tersebut.

Masyarakat menilai proyek ikon daerah yang menelan dana besar itu harus diaudit secara menyeluruh demi menjamin akuntabilitas pengelolaan uang negara.

Kasus ini kini menjadi perhatian luas, dan publik menunggu langkah konkret dari lembaga pengawas untuk memastikan transparansi serta menuntaskan dugaan kejanggalan dalam proyek patung karapan sapi Alun-Alun Trunojoyo.

Editor : Redaksi