Harlah 1 Abad NU, Lesbumi PWNU Jatim Gelar Pameran Lukisan Nasional “Mangsa Kalasubo "

Penulis : -
Harlah 1 Abad NU, Lesbumi PWNU Jatim Gelar Pameran Lukisan Nasional “Mangsa Kalasubo "
Foto : Istimewa

SURABAYA, Celurit.news – Dalam rangka memperingati Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (1926–2026), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur menggelar Pameran Lukisan Nasional bertajuk “Mangsa Kalasubo”. Pameran ini berlangsung mulai 20 Januari hingga 8 Februari 2026 di Galeri Dewan Kesenian, Kompleks Balai Pemuda, Surabaya.

Pameran tersebut menjadi ruang refleksi seni dan budaya yang menandai satu abad perjalanan NU, sekaligus ikhtiar menghadirkan optimisme di tengah situasi bangsa yang masih dibayangi krisis multidimensi.

Tema Mangsa Kalasubo dipilih sebagai simbol harapan akan hadirnya masa cerah setelah fase panjang kekisruhan. 

Dalam khazanah kearifan Jawa, Kalasubo dimaknai sebagai zaman kemakmuran, keadilan, dan kebangkitan peradaban.

Sekretaris Lesbumi PWNU Jawa Timur, Nabila Dewi Gayatri, mengatakan pameran ini akan dibuka secara resmi pada Jumat malam, 30 Januari 2026, pukul 19.00 WIB, oleh jajaran PWNU Jawa Timur.

Sejumlah perupa nasional terlibat dalam perhelatan ini, di antaranya KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Acep Zamzam Noor, Nasirun, serta Nabila Dewi Gayatri sendiri selaku inisiator pameran.

Menurut Nabila, pameran ini berangkat dari kesadaran bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni dan budaya yang luar biasa, tersebar di berbagai pulau dan termanifestasi dalam beragam bentuk ekspresi, mulai dari seni rupa, tari, teater hingga sastra.

Warisan seni dan sastra tersebut, kata dia, merupakan kekayaan intelektual leluhur yang diwariskan lintas generasi dan hingga kini masih mengakar kuat dalam jiwa masyarakat Indonesia, meskipun zaman terus bergerak menuju modernitas.

Secara psikologis dan kultural, bangsa Indonesia dinilai tidak pernah sepenuhnya tercerabut dari tradisi. Hal itu terlihat dari masih digunakannya catatan atau ramalan kuno sebagai cara membaca dan memahami perkembangan zaman.

Nabila menyinggung sosok Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang ramalannya kerap dijadikan rujukan dalam membaca siklus zaman. Ia menyebut bahwa setelah masa Kalabendu—masa penuh kekacauan dan krisis—akan datang Kalasubo, era keadilan dan kemakmuran.

“Apakah ramalan itu akan terwujud persis atau tidak, tentu tak bisa dipastikan. Namun paling tidak, ia menumbuhkan cita-cita dan harapan kolektif sebagai energi untuk terus bergerak,” ujar Nabila.

Ia menegaskan bahwa harapan adalah bahan bakar kehidupan mendorong manusia untuk terus berkarya, bergerak untuk kemerdekaan, dan berjuang demi kemaslahatan bersama.

Dalam sejarah perjuangan bangsa, lanjut Nabila, mitos dan kepercayaan kerap menjadi spirit perlawanan. Di era Pangeran Diponegoro, sosok beliau dikultuskan sebagai Heru Cakra atau Ratu Adil, simbol pembebasan dari ketidakadilan.

Hal serupa juga terjadi pada masa revolusi kemerdekaan, ketika narasi tentang datangnya Ratu Adil terus digemakan sebagai energi kolektif agar bangsa tidak patah semangat menghadapi penjajahan.

Relevansi Kalasubo dengan kondisi kekinian, menurut Nabila, terletak pada kesadaran bahwa bangsa ini tengah mengalami krisis berkepanjangan, bukan karena kekurangan, melainkan akibat kelimpahan yang disalahkelola dan krisis amanah.

“Kekuasaan sering membuat lupa. Etika dan moral terpinggirkan, yang salah dibenarkan, yang benar disingkirkan. Daya beli menurun, masyarakat apatis, inilah Kalabendu,” tegasnya.

Melalui pameran Mangsa Kalasubo, Lesbumi berharap seniman mengambil peran sebagai agen perubahan—menyuarakan kebenaran lewat karya, menjaga daya kritis, dan menggaungkan persatuan bangsa agar masa Kalasubo benar-benar terwujud. “Aamiin,” pungkas Nabila.

Editor : Redaksi