Ketua Lesbumi PWNU Jatim: Sejarah NU Harus Ditempatkan di Pusat Sejarah Nasional

Penulis : -
Ketua Lesbumi PWNU Jatim: Sejarah NU Harus Ditempatkan di Pusat Sejarah Nasional
Forum Metodologi Riset Penulisan Sejarah yang digelar PC ISNU Kota Mojokerto di Kantor PCNU Kota Mojokerto (.Doc : Anam Sakti).
Selamat dan sukses pipinan redaksi celurit.news di nyatakan kompeten atas kompetensi sebagai wartawan utama

SURABAYA, Celurit.news – Sejarah Nahdlatul Ulama (NU) dan peran kaum santri dinilai tidak boleh dipinggirkan dalam penulisan sejarah nasional Indonesia.(26/07/2026).

Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran, menegaskan penulisan sejarah nasional harus dilakukan secara objektif dan proporsional dengan mempertimbangkan peran umat Islam, khususnya kaum santri, dalam perjalanan bangsa.

Hal itu disampaikan Riadi dalam forum Metodologi Riset Penulisan Sejarah yang digelar PC ISNU Kota Mojokerto di Kantor PCNU Kota Mojokerto.

“Penulisan sejarah nasional Indonesia lazimnya bersifat objektif dan fair, dengan mempertimbangkan peran umat Islam, khususnya kaum santri, baik dalam pergerakan kemerdekaan, masa Revolusi Nasional Indonesia, maupun dalam perjalanan Republik Indonesia hingga saat ini,” kata Riadi.

Kegiatan tersebut dibuka Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Mojokerto, KH Moh. Shodiqin Marzuqon, dan dipandu Ketua PC ISNU Kota Mojokerto, Gus Saiful Amin. Forum diikuti kader NU dari sejumlah lembaga dan badan otonom, di antaranya LTN, IPNU, IPPNU, GP Ansor, serta perwakilan MWCNU se-Kota Mojokerto.

Menurut Riadi, penulisan historiografi nasional perlu memanfaatkan berbagai sumber sejarah, termasuk dokumen, arsip, sejarah lisan, memoar tokoh, serta kesaksian para pejuang dan tokoh Nahdlatul Ulama.

Ia menilai, peran umat Islam, kaum santri, dan NU yang selama ini kerap ditempatkan di pinggiran sejarah harus dikaji secara lebih proporsional agar sejarah nasional dapat ditulis secara utuh.

“Peran sejarah umat Islam, khususnya kaum santri dan Nahdlatul Ulama, yang selama ini ditempatkan di pinggiran harus digeser ke tengah percaturan sejarah. Untuk itu, diperlukan ketersediaan data dan sumber penulisan yang komprehensif,” ujarnya.

Ketua Tim Kerja Monumen Resolusi Jihad NU tersebut juga mengingatkan pentingnya keberadaan dokumen dan arsip NU sebagai sumber primer dalam penulisan sejarah nasional Indonesia kontemporer. Menurutnya, sebagian arsip NU telah menjadi bagian dari khazanah Arsip Nasional yang dapat dimanfaatkan dalam riset sejarah.

Pentingnya Sejarah Lokal

Riadi juga menekankan pentingnya penulisan sejarah NU di tingkat lokal sebagai bagian dari upaya membangun historiografi NU dan sejarah nasional yang lebih utuh.
Menurutnya, sejarah NU di tingkat cabang maupun wilayah dapat menghadirkan gambaran mengenai suasana zaman, dinamika sosial, serta pemikiran yang melatarbelakangi perjalanan organisasi di berbagai daerah.

“Penulisan sejarah NU di tingkat lokal, baik cabang maupun wilayah, memberikan panorama zaman dan cara pandang yang dapat menggambarkan spirit zaman serta suasana yang melatarbelakanginya,” jelasnya.

Ia menambahkan, tokoh-tokoh lokal memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah NU. Sejarah, kata dia, tidak hanya dibangun oleh aktor-aktor besar, tetapi juga oleh para tokoh dan masyarakat yang berkontribusi di berbagai tingkatan.
Karena itu, ketersediaan dokumen, data, dan sumber primer menjadi faktor penting dalam penulisan sejarah lokal maupun sejarah NU secara nasional.

“Di sinilah ketersediaan dokumen, data, dan sumber primer dalam penulisan sejarah lokal serta sejarah Nahdlatul Ulama secara nasional membuka peluang bagi lahirnya penulisan sejarah yang lebih utuh,” pungkas Riadi.

Ia juga mengingatkan pentingnya melihat perjalanan sejarah NU dalam konteks yang lebih luas, termasuk keterkaitannya dengan perkembangan sejarah dunia dan dinamika kawasan di luar Indonesia.

Editor : Redaksi