LIRBOYO KEDIRI, Celurit.news –Musyawarah Kubro Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pesantren Lirboyo, Kediri, menjadi momentum penting bagi konsolidasi internal organisasi di tengah dinamika kepemimpinan nasional NU.(21/12/2025).
Forum yang dihadiri jajaran Mustasyar, kiai sepuh, serta elite struktural NU tersebut menegaskan bahwa jalan utama penyelesaian persoalan organisasi adalah islah dan ketaatan penuh terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
Pesantren Lirboyo dipilih bukan tanpa alasan. Selain memiliki nilai historis kuat dalam perjalanan NU, forum ini dimaknai sebagai ruang teduh untuk merawat adab, musyawarah, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan strategis.
Para kiai sepuh menekankan bahwa NU harus tetap berada pada porosnya sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, organisasi keagamaan dan sosial yang mengedepankan maslahat umat, bukan perebutan kekuasaan.
Dalam forum tersebut, islah ditegaskan sebagai jalan pulang, bukan jalan pintas. Islah dipahami bukan sebagai bentuk kekalahan, melainkan keberanian menundukkan ego demi keutuhan organisasi.
Mustasyar NU mengingatkan bahwa yang dipertaruhkan dalam dinamika internal saat ini bukan sekadar posisi struktural, melainkan marwah dan keberlanjutan jam’iyyah NU secara keseluruhan.
Karena itu, AD/ART ditegaskan sebagai panglima tertinggi organisasi. Seluruh langkah dan keputusan harus berpijak pada konstitusi, bukan pada tafsir sepihak atau kepentingan kelompok tertentu.
Forum Musyawarah Kubro juga menyampaikan sikap tegas: apabila islah tidak tercapai, maka mekanisme konstitusional harus dijalankan secara penuh dan tertib sesuai AD/ART.
Salah satu opsi yang dibuka adalah pembentukan panitia Muktamar secara netral di bawah mandat Mustasyar, hingga kemungkinan digelarnya Muktamar Luar Biasa (MLB) sebagai langkah terakhir.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam forum tersebut menyampaikan sikap taslim, patuh terhadap keputusan Mustasyar dan hasil musyawarah jamaah.
Ia menegaskan bahwa sejak awal yang diupayakan adalah islah, dengan membuka ruang tabayyun seluas-luasnya dan menghindari polarisasi yang dapat merugikan NU.
Sikap tersebut dinilai mencerminkan etika kepemimpinan khas NU, di mana ketaatan pada aturan dan musyawarah ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Musyawarah Kubro juga menekankan pentingnya menjaga etika organisasi di tengah arus informasi cepat, agar NU tidak terjebak dalam konflik terbuka yang berlarut-larut.
Para kiai sepuh sepakat bahwa konflik bisa datang dan pergi, namun konstitusi NU harus tetap tegak sebagai penjaga adab dan penuntun arah organisasi.
Musyawarah Kubro Lirboyo pun menutup dengan pesan bahwa apapun jalan yang ditempuh islah ataupun mekanisme konstitusional NU harus tetap utuh, bermartabat, dan setia pada aturan yang telah disepakati bersama.
Editor : Khoirul Anam