Penganugerahan Pahlawan Nasional Syaichona Kholil Disambut Doa Bersama di Banyuates Sampang

Penulis : -
Penganugerahan Pahlawan Nasional Syaichona Kholil Disambut Doa Bersama di Banyuates Sampang
Doa Bersama Untuk Gelar Pahlawan Nasional Syaichona Muhammad Kholil Bin Abdul Latif Bangkalan. (Foto: Istimewa)

SAMPANG, Celurit.News — Acara syukur dan doa serentak atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Syaichona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan digelar di Pendapa Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, Selasa (25/11/2025)

Kegiatan tersebut diprakarsai oleh Laskar Hubbul Wathon Kecamatan Banyuates dan dilaksanakan serentak di 14 kecamatan se-Kabupaten Sampang.

Lebih dari 150 peserta hadir dalam acara istighosah dan doa bersama tersebut. Hadir pula unsur Forkopimcam Banyuates, yakni Camat, Danramil, dan Kapolsek, serta para ulama dan tokoh agama dari 20 desa di wilayah Banyuates dan masing-masing desa menghadirkan tiga perwakilan.

Selain itu, sejumlah pengasuh pondok pesantren turut hadir, di antaranya. KH. Ushuluddin Emha (PP. Nurul Huda Kembang Jeruk), KH. Ridwa Toha (PP. Al Khoiriyah Tebanah), KH. Babus Salam Hamidi (PP. Mambaul Ma’arif Montor), dan juga KH. Imam Syafi’i (Tokoh Agama Banyuates).

Berbagai organisasi kepemudaan juga tampak memeriahkan kegiatan, seperti PAC GP Ansor Banyuates, PAC Fatayat NU Banyuates, DPK KNPI Banyuates, serta sejumlah organisasi kepemudaan lainnya.

Koordinator Laskar Hubbul Wathon Banyuates, Hasanuddin, menyampaikan bahwa penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Syaichona Muhammad Kholil merupakan momentum bersejarah bagi Madura dan umat Islam Indonesia.

Menurutnya, Syaichona Kholil bukan hanya ulama karismatik, tetapi juga figur yang menentukan arah lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) serta penjaga tradisi Islam pesantren.

“Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Syaichona Muhammad Kholil adalah karunia besar bagi Madura dan umat Islam. Beliau bukan hanya guru para ulama, tetapi penentu arah lahirnya NU dan penjaga ruh keislaman yang berakar pada tradisi,” ujar Hasanuddin.

Ia menambahkan bahwa rasa syukur tersebut selayaknya diwujudkan melalui doa dan istighosah, agar perjuangan dan nilai yang diwariskan Syaichona Kholil tidak hanya dikenang, tetapi terus diamalkan.

“Dalam istighosah ini kita diingatkan kembali tentang pesan spiritual beliau, termasuk wirid ‘Ya Jabbar Ya Qahhar’ yang diwariskan kepada Kiai As’ad Syamsul Arifin. Doa itu adalah simbol kekuatan batin dalam menjaga keutuhan NU dan umat Islam. Siapa pun yang berniat merusak NU, maka Allah-lah yang akan menyingkap dan melemahkan niat buruk itu,” tegasnya.

Hasanuddin menegaskan bahwa di tengah perubahan sosial dan munculnya berbagai corak gerakan keagamaan baru, warisan ajaran Syaichona Kholil harus dijaga bersama.

“Mensyukuri warisan Syaichona Kholil berarti menjaga Ahlus Sunnah wal Jamaah, merawat pendidikan pesantren, menjaga marwah para kiai, dan memastikan wajah Islam tradisional tetap kokoh,” tutupnya.

Acara berlangsung khidmat hingga selesai dan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan umat, bangsa, serta keberkahan Madura.

Editor : Redaksi