Lesbumi PWNU Jatim Gelar Pesta Puisi Kemerdekaan, Launching Buku “Pengantin Bulan Domba”

celurit.news
Para penyair nasional dan Jawa Timur akan memeriahkan Pesta Puisi Kemerdekaan di Aula KH Bisri Syansuri, PWNU Jatim, Surabaya. ( Foto : Istimewa)

SURABAYA, Celurit.news – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur menggelar acara bertajuk “Pesta Puisi Kemerdekaan di Ujung Bulan” pada Minggu, 31 Agustus 2025, pukul 13.00 WIB di Aula KH Bisri Syansuri, Kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al-Akbar Timur No. 9, Gayungan, Surabaya.

Agenda ini sekaligus menjadi momentum peluncuran buku puisi “Pengantin Bulan Domba” karya Didik Wahyudi. Penyair alumni Unesa itu dikenal aktif di dunia teater melalui Teater Institut Surabaya.

Didik juga tercatat terlibat dalam produksi klip Museum Nahdlatul Ulama (NU) pada Desember 2004. Saat itu, museum diresmikan langsung oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dengan sutradara dan penulis naskah Riadi Ngasiran, yang kini menjabat Ketua Lesbumi PWNU Jawa Timur.

Sejumlah penyair nasional dan Jawa Timur dipastikan hadir, di antaranya Mardi Luhung, Mashuri, Ribut Wijoto, Aji Ramdhan, Kiai Chalim Kohari, Muhammad Choiri, Haidar Hafiiz, Aming Aminoedhin (Presiden Penyair Jawa Timur), Widodo Basuki, serta A. Muttaqien. Kehadiran mereka menegaskan acara ini sebagai perhelatan sastra besar yang terbuka untuk umum.

“Kami sengaja mengumpulkan para seniman untuk memeriahkan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Di kalangan Nahdliyin, peringatan biasanya tidak sebatas sehari, bisa berlangsung sebulan penuh. Begitu pula momentum proklamasi kemerdekaan ini,” ujar Ning Nabila Dewi Gayatri, Sekretaris Lesbumi PWNU Jatim, Jumat (29/08/2025).

Para seniman dari berbagai daerah, mulai Sidoarjo, Bangil, Jombang, Gresik hingga Surabaya, turut ambil bagian dalam kegiatan ini. “Konsepnya sederhana, memeriahkan peringatan kemerdekaan dengan cara khas seniman, namun tetap sarat makna,” tambah Gus Wildan K. Amrullah, panitia sekaligus Bendahara Lesbumi PWNU Jatim.

Lesbumi NU dikenal melahirkan banyak seniman yang berkiprah secara nasional. Salah satunya Mardi Luhung, guru asal Gresik yang karya-karyanya diakui dalam khazanah sastra Indonesia. Begitu pula Mashuri, penyair sekaligus peneliti BRIN, yang turut mewarnai peta sastra nasional.

Belum lama ini, Mardi Luhung tampil dalam agenda sastra di Museum Islam Indonesia KH. M. Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang. Acara itu turut disaksikan KH Kikin Abdul Hakim Mahfudz, Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pesantren Tebuireng.

“Saya memang tidak pernah nyantri di Tebuireng. Tapi hati saya selalu rindu hadir di sini. Alhamdulillah, saya bisa berziarah ke makam Hadlratussyaikh Hasyim Asy’ari,” ungkap Mardi Luhung.

Ia juga menitipkan pesan kepada warga NU agar ber-NU melalui jalur keilmuan yang jelas. “Dalam Qanun Asasi NU, Risalah Mbah Hasyim menegaskan pentingnya ilmu agama yang bersanad. Tanpa sanad, orang bisa masuk NU, tapi ibaratnya lewat jendela, bukan pintu,” tutur penyair buku “Ciuman Bibirku yang Kelabu” ini.

Editor : Redaksi

INTERNASIONAL
Terpopuler
Berita Terbaru