MALANG,Celurit.news — Partai Amanat Nasional (PAN) mulai mempertegas pendekatan politiknya kepada basis Nahdliyyin. Sikap tersebut mengemuka dalam momentum HUT PAN di Malang, Jawa Timur, ketika partai berlambang matahari itu menampilkan diri sebagai partai yang memiliki kedekatan dengan kalangan Nahdlatul Ulama (NU). 30/08/2026
Langkah tersebut menarik perhatian karena secara historis PAN dikenal memiliki akar yang kuat dari lingkungan Muhammadiyah. Perubahan pendekatan politik kepada basis Nahdliyyin dapat dibaca sebagai bagian dari strategi PAN memperluas ceruk pemilih menjelang Pemilu 2029.
Target politik itu sebelumnya disampaikan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Saat berbicara dalam Kongres VII Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN), Zulhas menegaskan ambisi partainya untuk masuk jajaran tiga besar perolehan suara pada Pemilu 2029.
Strategi memperluas basis pemilih menjadi tantangan penting bagi PAN. Sebab, pendekatan kepada kelompok Nahdliyyin berarti PAN berupaya memasuki ruang politik yang selama ini memiliki kedekatan historis dengan partai-partai berbasis warga NU.
Nahdliyyin merupakan sebutan bagi warga, anggota, maupun simpatisan NU. Organisasi keagamaan tersebut memiliki basis massa yang sangat besar di Indonesia dan menjadi salah satu kekuatan sosial-keagamaan paling berpengaruh dalam politik nasional.
Mengubah Arah Politik
Pendekatan PAN kepada basis Nahdliyyin sekaligus memperlihatkan dinamika politik yang semakin cair. Identitas historis sebuah partai tidak selalu menjadi batas permanen dalam menentukan strategi elektoral.
Jika ditarik ke belakang, PAN lahir dari rahim gerakan reformasi 1998 dan memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan Muhammadiyah. Tokoh sentral kelahiran PAN adalah Amien Rais, yang ketika itu menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Sejumlah tokoh turut berada di balik proses awal pendirian PAN, antara lain Faisal Basri, Hatta Rajasa, Goenawan Mohamad, Rizal Ramli, Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Toeti Heraty, Emil Salim, A.M. Fatwa, dan Alvin Lie.
A.M. Fatwa bahkan pernah menyebut PAN memiliki keterkaitan dengan rekomendasi Tanwir Muhammadiyah pada 1998 terkait gagasan pembentukan partai politik.
Dalam wawancara pada 2015, Fatwa mengatakan bahwa PAN secara historis lahir dari proses politik yang berlangsung di lingkungan Muhammadiyah.
Namun, perjalanan politik PAN kemudian berkembang jauh lebih luas. Partai tersebut tidak lagi hanya mengandalkan satu kelompok sosial-keagamaan, melainkan berusaha merangkul berbagai segmen pemilih.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa politik elektoral Indonesia semakin pragmatis. Identitas historis tetap menjadi bagian penting dari sebuah partai, tetapi strategi meraih suara dapat membuat batas-batas tersebut menjadi lebih cair.
Dari Muhammadiyah ke Nahdliyyin
Secara historis, PAN sering diasosiasikan dengan Muhammadiyah, sementara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) lahir dengan keterkaitan kuat terhadap lingkungan Nahdlatul Ulama dan tokoh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Karena itu, ketika PAN mulai lebih terbuka menyatakan kedekatan dengan kalangan Nahdliyyin, muncul pertanyaan politik: apakah langkah tersebut sekadar memperluas basis pemilih atau menjadi perubahan identitas politik PAN?
Logo PAN sendiri secara visual memiliki unsur matahari dengan dominasi warna biru, yang selama ini kerap diasosiasikan dengan latar historis Muhammadiyah. Namun, simbol dan identitas historis tersebut tidak otomatis membatasi arah politik PAN dalam membangun basis elektoral.
Target masuk tiga besar pada Pemilu 2029 tentu bukan pekerjaan ringan. PAN harus mampu mengubah pendekatan politik menjadi dukungan elektoral nyata.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah PAN mampu mendekati basis Nahdliyyin, tetapi apakah perubahan strategi tersebut mampu mendongkrak perolehan suara secara signifikan.
PAN kini seperti sedang mengganti strategi tanpa meninggalkan identitas lamanya. Tantangannya, apakah “pergantian skin” politik itu akan menghasilkan suara baru atau justru menimbulkan pertanyaan tentang identitas partai di mata pemilih?
Editor : Redaksi